Suka Sejarah

Perang Malvinas: Konflik Argentina Dan Inggris Yang Berdarah

Perang Malvinas adalah salah satu konflik paling menyakitkan dalam sejarah Hubungan Internasional. Pada tahun 1982, Argentina dan Inggris bertikai atas kepulauan Falkland (yang dikenal sebagai Malvinas di Argentina) di Laut Selatan. Konflik ini tidak hanya menyebabkan korban jiwa yang besar, tetapi juga memiliki dampak besar pada diplomasi internasional dan keamanan regional.

Latar Belakang Konflik

Kepulauan Malvinas, yang terletak di antara Argentina dan Inggris, telah menjadi sumber konfrontasi selama berabad-abad. Argentina telah klaim kepulauan ini sebagai bagian dari wilayahnya sejak abad ke-16, sedangkan Inggris juga klaim haknya atas kepulauan ini sejak abad ke-18.

Pada tahun 1833, Argentina berhasil mengusir pasukan Inggris dari kepulauan Malvinas, tetapi Inggris tidak mau mengakui kekalahan ini. Pada tahun 1965, Argentina mendirikan basis militer di kepulauan Malvinas, yang digunakan sebagai pangkalan untuk operasi penjagaan keamanan.

Perang Malvinas

Pada tanggal 2 April 1982, pasukan Argentina, yang dipimpin oleh jenderal Leopoldo Fortunato Galtieri, melancarkan serangan ke atas kepulauan Malvinas. Inggris, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Margaret Thatcher, tidak mau berunding dengan Argentina dan memutuskan untuk mengirim pasukanInggris ke kepulauan tersebut.

Pada tanggal 21 Mei 1982, pasukan Inggris, yang dipimpin oleh Komodor Sir Julian Oswald, mendarat di kepulauan Malvinas dan mulai merebut kembali basis militer Argentina. Pasukan Argentina, yang tidak siap menghadapi pasukan Inggris, akhirnya menyerahkan pengakuan pada tanggal 14 Juni 1982.

Dampak Perang Malvinas

Perang Malvinas berdarah dibuang hidup-hidup dan mengakibatkan korban jiwa yang besar. Lebih dari 600 orang tewas, terutama pasukan Argentina. Konflik ini juga mengakibatkan kerusakan besar pada ekonomi Argentina dan menguraikan kekuatan militer Argentina.

Namun, Perang Malvinas juga memiliki dampak positif pada Inggris. Perang ini membantu menguatkan posisi Margaret Thatcher sebagai Perdana Menteri Inggris dan memantapkan posisi Inggris sebagai kekuatan besar di Laut Selatan.

Perang Malvinas: Konflik Argentina dan Inggris yang Berdarah

Akibat Perang Malvinas

Perang Malvinas memiliki akibat yang jauh dari hanya korban jiwa dan kerusakaan ekonomi. Konflik ini juga memiliki dampak besar pada diplomasi internasional dan keamanan regional.

Perang Malvinas yang berdarah membuat Inggris dan Argentina memiliki hubungan yang keras. Ketika Perang Falkland membawa pasukan Inggris kembali ke kepulauan tersebut, ekstensif tentara meluncur ke benua Amerika Selatan dan mereka berencana untuk mengembalikan Argentinas ke wilayahnya seperti pada tahun 68.
Pada tahun 1982 paling tidak 97% penduduk adalah pribumi & merupakan bangsa Argentina yang merasa begitu menghargai ke dalamnya. Perubahan ini mendapat permintaan dari Spanyol pada tanggal 04 Majus.
Pada bulan mei atau juga Juni 1982 menarget juga dimanfaatkan rakyat seluruh di Inggris.

Konklusi

Perang Malvinas adalah salah satu konflik paling menyakitkan dalam sejarah Hubungan Internasional. Konflik ini tidak hanya menyebabkan korban jiwa yang besar, tetapi juga memiliki dampak besar pada diplomasi internasional dan keamanan regional. Meskipun perang ini membantu menguatkan posisi Inggris, namun konflik ini juga memiliki akibat berkepanjangan pada hubungan Inggris-Argentina.

Setiap bangsa pun mampu mengingat kita bahwa hanya rakyat yang berbujur saja akan bisa membersihkan satu-satunya hal untuk demi sebuah masyarakat belaka karena apa pun dapat diselsaikandalh kalian hanya tawa.

Referensi

    Perang Malvinas: Konflik Argentina dan Inggris yang Berdarah

  • Perang Malvinas, Ensiklopedia Britannica
  • Perang Falkland, Wikipedia
  • The Falklands War, BBC News
  • Perang Malvinas dan Dampaknya, Al Jazeera
  • Perang Falkland dan Politik Internasional, Channel NewsAsia

Perang Malvinas: Konflik Argentina dan Inggris yang Berdarah