Pembuat Topik: Ki Carpah Legenda yang Terasing  (Dibaca 358 kali)

Kopral Cepot

  • Mapatih
  • Lurah Prajurit
  • *****
  • Offline Offline
  • Tulisan: 214
  • Abdi Dalem Sang Prabu
    • WWW
Ki Carpah Legenda yang Terasing
« pada: Maret 10, 2010, 04:41:53 »
Maestro Tari Topeng
Ki Carpah Legenda yang Terasing


Hujan mengguyur deras ketika siang tengah hari itu, Carpan (70) asyik duduk di lantai depan rumahnya. Musik tarling dangdut mengalun keras-keras dari dalam rumah. Ki Carpan seolah-olah enggan siang itu telinganya dipenuhi bunyi air hujan, yang menerpa genting dan halaman.

Dari musik yang diperdengarkan, darah muda tampak masih mengalir deras di dalam tubuh lelaki kurus yang usianya telah senja itu. Bagi Carpan, bukan soal tarling dangdut. Dia hanya ingin mendidihkan darah supaya tubuh tuanya tidak kedinginan."Aku hanya tidak ingin darah yang mengalir di tubuhku membeku," ujarnya dalam bahasa Jawa Dermayu khas.

Carpan memang mutiara yang terpendam. Dia sebenarnya salah seorang penari topeng, yang juga berhak memegang gelar kehormatan sebagai maestro. Hanya saja, namanya jauh tenggelam oleh kepopuleran Mimi Rasinah dan Wangi Indria.

Pada 90-an, ketika maestro topeng Cirebon seperti Sawitri (Losari) dan Sujana Arja (Selangit), menikmati taburan panggung, Carpan seperti tak tersentuh. Begitu juga di masa-masa berikut ketika Rasinah dan Wangi Indria berpindah -pindah menari topeng, dari satu negara ke negara lain di Eropa, Carpan tak banyak dikenal orang. Dia pernah diajak pentas di Bali, Bandung dan Jakarta, tetapi tidak sebagai tokoh utama pementasan.

Padahal, sosok Carpan sangat dihormati oleh sesama penari topeng baik Indramayu maupun Cirebon. Di kalangan penari topeng, Carpan dianggap sebagai pemegang tongkat warisan topeng klasik pesisir pantai utara (Pantura) Jawa Barat.

Rasinah misalnya, bahkan meminta cucunya Aerly dan suaminya Ade, menimba ilmu ke Carpan. Begitu juga Wangi yang mengakui tari topeng Carpan sebagai yang orisinal dan murni, tanpa bercampur dengan khazanah tari lain seperti tayub yang memengaruhi gerakan tari topeng pesisir utara.

Nasib kurang berpihak kepadanya. Hingga siang itu, ketika hujan deras mendera dan permukaan Sungai Cibereng yang berada di sisi rumahnya mulai naik, Carpan tampak melamun.

Hari-hari yang dilalui penuh kekosongan. Tak cuma karena lagi paceklik, saat musim panen pun dia sudah tidak lagi dijadikan pilihan bagi warga yang hajatan untuk menanggapnya."Mungkin karena sudah tua ya," ujar Carpan yang mengungkapkan kegundahan hatinya dengan nada getir.

**

Di kalangan penari topeng atau komunitas seni tradisional di Indramayu, nama Carpan sangat disegani dan telah melegenda. Dia satu-satunya penari topeng laki-laki yang usianya beranjak tua, tetapi masih tetap setia pada kesenian yang diperolehnya melalui turun-temurun dari kakek buyutnya.

Gaya tari topeng Carpan, seperti dikatakan budayawan dan pemerhati seni tradisional Indramayu Nurochman Sudibyo (Dibyo), berbeda dengan Rasinah, Wangi, Sawitri maupun Sujana Arja. Menurut dia, tari topeng Carpan sangat "ideologis". Cenderung sebagai tarian ritual daripada tari topeng umumnya, yang lebih bersifat menghibur. Tari topeng Carpan lebih murni, bebas dari pengaruh tayub dan jaipongan. "Bagi masyarakat umum kurang enak, tetapi bagi yang paham, tarian Carpan lebih mendalam dan penuh makna," kata Dibyo.

Adik kandung Carpan, Sawen (69) yang juga penari topeng, menyebut tari topeng keluarganya sebagai yang asli. Sedang yang dibawakan penari topeng lain sebagai tari topeng "kursus". Kata "kursus" untuk menyebut tari topeng yang sudah bercampur dengan seni tari lain, terutama tayub dan jaipongan.

"Tari topeng yang sering dipertontonkan itu tari "kursus". Gerakannya bercampur tayub dan jaipongan. Memang enak ditonton, tetapi pemaknaannya dangkal," katanya.

Menurut dia, tidak ada gerak dalam tari topeng di mana kedua tangan dibiarkan mengepak lebar-lebar. Posisi badan terlalu lentur, kadang membungkuk dan lurus sesuai kepakan tangan. "Kalau yang asli tidak ada tangan mengepak bebas. Tubuh tidak lurus atau terlalu membungkuk," kata Sawen.

Carpan dan Sawen menunjukkan beberapa gaya tarian. Misalnya Panji, tarian diam yang ternyata membutuhkan konsentrasi lebih dibanding gaya Samba, Tumenggung, maupun Kelana.

Sepintas sama dengan gaya Rasinah maupun Wangi, saat memainkan Panji. Namun, bila dilihat seksama terdapat perbedaan mendasar, terutama pada tekanan kaki ke tanah untuk menopang tubuh. Lalu ayunan tangan yang tampak lebih kaku dan posisi jari-jemari yang menunjukkan seolah seperti digerakan oleh kekuatan di luar si penari.

Perbedaan lebih tajam terlihat pada tari berikutnya Samba Putih, Samba Merah, Tumenggung, dan Kelana seperti pakem tari topeng. Tarian Carpan tidak mengobral gerakan dengan kepakan tangan terbuka bebas. Malah tangan cenderung lebih banyak menekuk dengan gerak terbatas.

Meski begitu, tariannya tetap dinamis diikuti gerakan dada dan kepala yang sepertinya tak pernah berhenti bergerak. Hal yang sangat terasa, tari topeng Carpan penuh daya magis seperti dibahasakan Dibyo dengan kata "lebih ideologis". Gerakannya seperti ritual. Selain itu juga ekstasif, saking larutnya, Carpan membawakan tarian seperti setengah sadar.

**

Carpan merupakan generasi terakhir dari deretan silsilah tari topeng khas Cibereng di Kecamatan Terisi (dulu Cikedung), Kabupaten Indramayu. Tari topeng yang dikuasai bukan semata karena latihan, tetapi diperoleh begitu saja yang dikehendaki oleh leluhurnya. Ada semacam pertautan magis, di mana arwah leluhur dengan caranya sendiri, dipercaya meniupkan ruh kepada keturunan yang dikehendaki sebagai penari topeng.

Ada nuansa takhayul memang. Carpan dan keluarga mempercayai hal itu. Kendati pun dia juga mengakui kalau tari topeng diperolehnya sejak kecil. Sebab, Carpan dan juga Sawen, dilahirkan dari keluarga dalang topeng yang menitis ke keturunan keenam setelah kakek-buyut pertama, dari Candra, Ki Dawung, Kejat, Wartani, Sawen, Warsih, Nur, dan kini Carpan bersama adiknya, Sawen yang menakhodai sanggar tari topeng "Sekar Muda" Cibereng.

Tari topeng Cibereng telah berlangsung lebih dari 1,5 abad. Hingga sekarang, masih ada dua topeng wasiat usianya 150 tahun, berupa Panji dan Tumenggung yang kayunya sudah menghitam. Bila Carpan menari dan mengenakan topeng pusaka, harus lebih dulu melalui ritual dan jejampian khusus.

"Topeng pusaka ini tidak sembarangan. Kalau tidak tahu jejampiannya, topeng tidak bisa lepas saat dipakai. Harus seizin roh leluhur," kata Carpan menunjukkan dua topeng pusakanya.

Siang itu, Carpan mengemukakan kerinduan ingin menari di atas panggung. Bahkan dia "menantang" ingin diadu dengan penari topeng lainnya. Tradisi tari "topeng adu" atau "kupu tarung" ini yang sudah benar-benar punah. Padahal, dulu kata Carpan, seorang penari baru bisa disebut yang terbaik bila menang saat beradu dengan penari topeng lain.

"Saya ingin menari kupu tarung. Kalau ingin tahu penari topeng yang terbaik, ya lewat kupu tarung," kata Carpan yang saat muda selalu menang bila diadu dengan penari topeng lain.

Kelebihan Carpan pada gerakan mundur yang tak cuma lurus, tetapi juga bisa miring ke sana-ke mari. Oleh karena itu, di masa mudanya dia selalu bisa menjatuhkan lawan di panggung kalau menari kupu tarung. Selain keahlian mundur dengan gerakan miring, hentakan kaki dan kuda-kuda Carpan dikenal sangat kuat menjenjak ke tanah. Oleh karena itu, sampai masa tuanya belum ada yang mampu menjatuhkan saat menari kupu tarung.

Sumber : Koran Pikiran Rakyat Edisi Rabu 10 Maret 2010
Tercatat
Biar Sejarah Yang Bicara .....
www.serbasejarah.wordpress.com

ms_rasyid

  • Kawula
  • *
  • Offline Offline
  • Tulisan: 1
Re:Ki Carpah Legenda yang Terasing
« Jawab #1 pada: Mei 03, 2010, 11:03:17 »
Sedih juga membaca kisah para pejuang seni tradisi yang hidup tersisih.  Banyak dari mereka, ketika aktif menjadi seniman, bekerja banting tulang di siang hari, lalu berperan sebagai pekerja seni di malam hari.  Honornya tak seberapa, tak pernah bisa ditabung.  Dan ketika mereka memasuki usia pensiun, terasinglah mereka dari kehidupan.  Tanpa ada yang peduli lagi. 

Saya tidak tahu, apakah ada di antara Anda yang mengetahui alamat para pejuang seni itu?  Saya ingin menimba ilmunya, saya ingin menjadi muridnya, meski tidak untuk menjadi seniman, karena saya tak ingin tersisih dari kehidupan.

Salam seni nu sani
ms_rasyid
Tercatat