MENURUT Apung S. Wiratmadja dalam buku Salawé Sesebitan Hariring (PT Kiblat Buku Utama, Oktober 2009), Nyi Mas Saodah selain dikenal sebagai penembang Sunda Cianjuran yang andal pada zamannya, juga dikenal sebagai pembuat rumpaka (lirik) panambah yang jempolan. Salah satu lirik panambah yang ditulis Nyi Mas Saodah yang hingga kini masih ditembangkan oleh para penembang Sunda Cianjuran adalah Pupundèn Ati. Lirik maupun pola lagu panambah dalam tembang Sunda Cianjuran posisinya di luar lirik maupun pola lagu yang ketat seperti yang terdapat dalam papantunan, jejemplangan, dedegungan, rancagan, kakawén, dan mangu-mangu. Masing-masing wanda tersebut mempunyai ciri yang mandiri. Ini menunjukkan bahwa nenek moyang Ki Sunda dalam berkarya seni cukup kreatif. R.A.A. Kusumaningrat merupakan salah seorang tokoh yang mengkreasi tembang Sunda Cianjuran pada zamannya. Kesenian ini pada awalnya tumbuh dan berkembang di Kabupaten Cianjur yang kemudian menyebar ke berbagai pelosok dunia.
Pada dasarnya, bila teks lirik panambah dibaca secara sungguh-sungguh, kita akan melihat teks tersebut tidak lebih dari puisi bebas yang kaya dengan makna. Lirik panambah yang ditulis oleh Nyi Mas Saodah, Pupundén Ati, memberikan gambaran kepada kita tentang kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya, sekalipun nakal adanya. Lirik tersebut berbunyi demikian:
Duh anak ibu
nu geulis pupundén ati
geus bila ulin
geus capétang jeung ngopépan
teu wéléh deudeuh
najan bangor tolohéor
tambah kanyaah
saréngkak saparipolah
Dalam percakapannya dengan penulis beberapa waktu lalu, Apung yang juga dikenal sebagai tokoh tembang Sunda Cianjuran kenamaan dari Kota Bandung mengatakan bahwa lirik yang ditulis oleh Nyi Mas Saodah dalam bait pertama itu adalah lirik yang mampu menggambarkan sekaligus membangkitkan ingatan kita akan rasa kasih sayang yang mendalam dari seorang ibu terhadap anaknya. Lirik yang ditulis dengan sintaksis teks yang sederhana, kaya makna. ”Bila lirik tersebut ditembangkan oleh seorang penembang yang mampu menghayatinya dengan baik, maka diam-diam kita akan meneteskan air mata. Lirik tersebut mampu membangkitan ingatan kolektif kita akan masa kanak-kanak kita yang nakal, dan ibu kita tetap mengasihi kita dengan penuh kasih-sayang,” ujar Apung.
Cinta kasih dengan berbagai variasinya di dalam lirik-lirik lagu tembang Sunda Cianjuran dieksplorasi sedemikian rupa, mulai dari persoalan religius hingga tangis penuh sesal seperti dalam lagu Ceurik Rahwana. Sekalipun demikian, yang muncul justru bukan kecengengan itu sendiri melainkan semacam kritik yang pedas terhadap perilaku kita sendiri dalam dunia macam apa kita berada. Lirik tembang Sunda Cinajuran dalam konteks lebih lanjut adalah lirik yang ditulis dengan tujuan utama adalah menohok hati kita terdalam agar sadar pada ruang dan waktu macam apa kita berada di dalamnya. Bahasa utama yang digunakan untuk menulis lirik tersebut adalah bahasa ibu, dalam hal ini bahasa Sunda.
Dalam konteks ini, saya jadi ingat dengan apa yang dikatakan almarhum Rendra di Den Haag, Belanda. Menurut Rendra, pada dasarnya bahasa ibu adalah bahasa rasa. Berkait dengan itu, tak aneh kalau banyak kalangan mengatakan bahwa bahasa Sunda dalam konteks yang lebih lanjut adalah bahasa rasa. Perasaan-perasaan terdalam semacam itulah yang ingin dikomunikasikan Nyi Mas Saodah terhadap apresiatornya. Selanjutnya, bait kedua lirik tersebut di atas berbunyi:
Jungjunan ibu
nu geulis pupundén ati
duh boga anak
indung wuwuh mikayungyun
reup geura kulem
geus peuting sepi ngajempling
diayun-ayun
barina dihariringan
Dari dua bait di atas, tampak jelas bahwa larik demi larik yang ditulis oleh Nyi Mas Saodah menggiring ingatan kita pada masa kanak-kanak, yang dijaga oleh ibu kita dengan segenap kasih sayang yang tidak mampu kita balas hingga kini, selain adakalanya kita melukai perasaannya. Kekuatan puisi sebagaimana dikatakan Rendra memang terletak pada rasa. Berkaitan dengan itu, mengemukanya kekuatan rasa atau emosi itu bukan terletak pada kerumitan rangkaian kata yang diposisikan sebagai alat ungkap, melainkan pada kesederhanaannya dalam membangun sintaksis teks dengan segenap daya komunikasinya.
Nyi Mas Saodah lebih lanjut mengungkapkan perasaannya sebagai berikut dalam lirik yang ditulisnya itu:
Duh anak ibu
nu geulis pupundén ati
ibu ngahariring
lain hariring birahi
duh bari tembang
lain perbawa asmara
diéyong-éyong
lain ngéyong teu sabongbrong
Jungjunan ibu
nu geulis pupundén ati
nyaring ku nyaringna
sok inggis ulin teu puguh
da haté indung
salempang pinanggih bahya
indung ngamongmong
nyaah suda ti karinah
Lirik yang ditulis oleh Nyi Mas Saodah tamatan SR Pasirhayam Cianjur itu, sungguh mendalam maknanya. Dalam hal penulisan puisi pada satu sisi memang adakalanya tidak ada hubungan antara tingginya seseorang sekolah dengan kemampuan menulis puisi. Apa sebab? Karena mengolah bahasa rasa pada konteks yang lebih lanjut, sangat ditentukan oleh bakat serta lingkungan di mana ia tumbuh.
**
DIKATAKAN Apung, hingga tahun 2001 tercatat 209 lagu panambah dari 591 lagu secara keseluruhan. Boleh jadi pada tahun 2010, saat ini, lagu panambah sudah bertambah lagi. Entah berapa jumlahnya. Selain Nyi Mas Saodah, tokoh lainnya yang juga banyak menyumbangkan lagu panambah adalah Mang Engkos.
Menurut Enip Sukanda, dosen karawitan di Jurusan Karawitan STSI Bandung dalam percakapannya dengan penulis beberapa waktu lalu, Mang Engkos boleh dibilang sebagai tokoh pembaharu dalam penulisan lagu-lagu panambah dalam tembang Sunda Cianjuran. ”Kebaruan itu antara lain terlihat pada penulisan rumpaka (lirik) yang tidak terikat oleh bilangan guru lagu,” ujar Enip, saat itu. Enip pula yang memperkenalkan saya pada lirik-lirik yang ditulis oleh Mang Engkos, yang setelah itu saya tahu lebih banyak lagi dari Apung S. Wiratmadja. Apung adalah menantu Mang Engkos.
Apa yang dikatakan Enip memang tidak salah. Apalagi bila kita membaca bagaimana lirik itu ditulis, seperti puisi modern yang mulai tumbuh dan berkembang di tatar Sunda pada tahun 1940-an dengan tokohnya antara lain penyair Kis W.S. Salah satu lirik yang ditulis oleh Mang Engkos kita baca di bawah ini:
Mun langit mendung
angkeubna lir haté kuring
cai leutik ngarakacak pipikiran, aduh
ku teu sangka
anjeun téh megat mutuskeun
nu geus paheut pasini bet puyar deui
ilang musna bareng jeung dina impian
tawis asih manehna luluasan
Nu baheula
raheut téh can lipur deui
nu gudawang nandangan manah sungkawa
da akarna
kabawa ku haté anjeun
mancawura angkeuhan taya harepan
langit bengras ku mega geus kahalangan
ceuk rasa mah da moal ganti panutan
nyawang asih
mun bulan rék tembong deui
sina nyaangan nu palid leungit harepan
rék nyingkahan
mawa kadar nu tumiba
samagaha nu surem ilang dangiang
nu munggaran harita hujan cimata
rék sumerah nyanggakeun ka Nu Kagungan
(”Nyawang Asih”)
Jika apa yang ditulis oleh Nyi Mas Saodah mengungkap persoalan-persoalan kasih sayang antara ibu dan anak, maka cinta kasih yang diungkap oleh Mang Engkos adalah cinta kasih antara laki dan perempuan yang tidak kunjung menemukan kebahagiaan karena rajutan benang cinta kasih yang dipintalnya itu putus sudah. Suasana romantis dan melankolis yang terdapat dalam kedua lagu panambah tersebut benar-benar menusuk perasaan kita, sebab mampu membuka ingatan kolektif kita pada pengalaman yang sama. Selain itu, kita baca lirik lainnya yang ditulis Mang Engkos di bawah ini:
abdi masih kénéh émut
geuning kapungkur ngageuri
majar badé sayaktosna
miasih ka diri abdi
kalah ka udar subaya
megatkeun tali pasini
sakitu abdi mituhu
dibélaan lara pati
megah wiwilanganana
disiksik dikunyit-kunyit
dicacag diwalang-walang
pikir hamo kumarembing
singhoréng ukur ngukusut
abong ka jalmi nu laip
badan téh taya hargana
diri teu aya pangaji
mun nyana kieu tungtungna
duh asih kacida teuing
(”Duh Asih”)
Dalam konteks inilah saya sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Sigmund Freud bahwa pengarang kreatif dalam menulis karya sastra yang dikreasinya menciptakan dunia permainan secara menyalurkan banyak emosi ke dalamnya. Nah, dunia permainan yang dimainkan oleh Mang Engkos maupun Nyi Mas Saodah dalam menulis lirik-lirik lagu panambah itu, bukan hanya sekadar permainan makna, tetapi juga juga rasa.
Lepas dari persoalan tersebut di atas, Mang Engkos yang nama lengkapnya Engkos al Otjim adalah kelahiran Sumedang, 1941. Semasa remaja senang main sepak bola, dan untuk itu dikenal sebagai pemain sepak bola yang cukup andal pada zamannya. Engkos yang meninggal dunia pada 16 Juni 1976 di Bandung itu, pada sisi yang lain, selain dikenal sebagai pesepak bola yang tangguh, juga dikenal sebagai seniman tembang Sunda Cianjuran yang dalam masa-masa tahap perkembangannya belajar pada banyak pihak. Salah seorang murid Mang Engkos yang terkenal antara lain Euis Komariah.
Paling tidak begitulah, dalam tulisan yang serbasingkat dan terbatas ini, saya mengenal tembang Sunda Cianjuran tidak hanya pada lagu pokok dengan daya pesona yang demikian tinggi, magis, sekaligus melankolis. Lirik lagu panambah dalam konteks yang demikian mempunyai pula daya pesona tersendiri, disebabkan kebebasannya, baik dalam penulisan lirik maupun dalam pelantunan lagu dan petikan kecapinya.
Dalam konteks lebih lanjut saya hendak mengatakan, bila dewasa ini orang mulai ribut membicarakan musikalisasi puisi, maka apa yang dikreasi Mang Engkos maupun Nyi Mas Saodah adalah musikalisasi puisi juga. Dengan demikian, jelas sudah bahwa apa yang dinamakan musikalisasi puisi dalam kebudayaan Sunda sesungguhnya bukan hal baru, ia ada sudah sejak lama. Lihat saja pada awal pertunjukan Pantun Sunda suka ada kidung, rajah, apa pun namanya yang dihaleuangkan oleh Ki Juru Pantun. (Soni Farid Maulana/”PR”)