Pembuat Topik: Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang  (Dibaca 418 kali)

kemas-ari

  • Kawula
  • *
  • Offline Offline
  • Tulisan: 18
Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang
« pada: Pebruari 23, 2010, 09:01:40 »
BKB...., Riwayatmu Dulu..., Kini…, dan yang Akan Datang (Bagian 1).
Oleh : Kemas Ari, S.Pd., M.Si.
Dosen dan Guru Sejarah di Fakultas Adab IAIN Raden Fatah dan MAN 1 Palembang serta
Sekretaris Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) cabang Provinsi Sumatera Selatan


1. Pendahuluan
Menulusuri Sejarah Kota Palembang, adalah sebuah perjalanan panjang. Setidaknya kita akan terlibat dalam pembahasan dua kerajaan yang pernah ada di wilayah nusantara ini yaitu KERAJAAN SRIWIJAYA dan KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM. Akan tetapi panitia pelaksana Sarasehan Budaya telah menetukan tema “Membangun Indonesia dengan Pelestarian Aset Perjuangan Nasional” bertajuk Benteng Kuto Besak. Sehingga penulis akan dapat lebih memfokuskan tulisan tentang sejarah dan perkembangan Benteng Kuto Besak,  sebagai batasan agar pembahasan tidak terlalu melebar.
Saat ini mengingat kota Palembang, pasti yang terlebih dahulu terkenang adalah makanan khasnya dan Jembatan Ampera yang membentang gagah diatas sungai Musi serta Benteng Kuto Besak, atau nama besar kerajaan Sriwijaya yang pernah menguasai dan mempersatukan wilayah nusantara.
Peninggalan-peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam secara fisik memang masih terlihat, diantaranya berupa sisi-sisa Istana yang dikenal dengan nama Benteng Kuto Besak (BKB) yang masih berdiri kokoh untuk dilihat, kendatipun nuansa Istana memang sama sekali sudah lenyap. Maklum, areal itu sudah lama berubah fungsi menjadi asrama dan rumah sakit tentara.
Sebagai Kerajaan Maritim, Kesultanan Palembang Darussalam perlu memiliki sistem pertahanan yang khusus. Sistem pertahanan yang dibangun hendakknya dengan pertimbangan yang seksama. Untuk keperluan itu maka semua jalur lalu lintas sungai harus dikuasai, dan disepanjang sungai Musi harus dibuat benteng-benteng pertahanan (Panji,2006:153).
Setelah terjadinya Perang Menteng pada tahun 1819 yang berakhir dengan kemenangan di pihak Kesultanan Palembang, membuat Belanda mempunyai perhitungan tersendiri atas Kesultanan Palembang. Hal yang sama dilakukan pula oleh Sultan, sehingga beliau melakukan beberapa kebijakan dalam berbagai bidang. Pada tahun 1819-1821 banyak benteng lama yang diperkuat dan benteng baru didirikan(Safwan,2004:74). Benteng yang dibangun sepanjang sungai Musi itu dimulai dari Sungsang. Dilanjutkan ke Muara Rawas disebelah utara. Diteruskan ke sebelah Selatan sampai dihulu sungai Ogan dan sungai Komering. Benteng-benteng tersebut terletak di Muaro Sungsang, Selat Borang, Pulau Anyar, Muaro Plaju, Pulau Kemaro, Martapuro, Kuto Besak, Kuto lamo, Dusun Bailangu, Ujung Tanjung, dan Dusun Muncak Kabau.

2. Benteng Kuto Besak, Riwayatmu Dulu.
Benteng Kuto Besak / Kuto Anyar dibangun oleh Yang Mulia Sri Paduka Sultan Muhammad Bahauddin Bin Susuhunan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo,  pada hari Ahad (Minggu) tanggal 15 Jumadil Awal 1193 H atau 1779 M,  dan dipergunakan pertama kali  pada  hari Senin pagi tanggal 23 Syakban 1211 H atau 23 Februari  1797, ( + 18 Tahun). Benteng Kuto Besak / Kuto Anyar Panjangnya 288,75 Meter, Lebar 183,75 Meter Tinggi 9,99 Meter (30 kaki), Tebal dinding 1,99 Meter (6 kaki) membujur arah barat-timur (hulu-hilir Musi). Di setiap sudutnya terdapat bastion. Bastion yang terletak di sudut barat laut bentuknya berbeda dengan tiga bastion lain, sama seperti pada bastion yang sering ditemukan pada benteng-benteng lain di Indonesia. Justru ketiga bastion yang sama itu merupakan ciri khas bastion Benteng Kuto Besak. Di sisi timur, selatan, dan barat terdapat pintu masuk benteng. Pintu gerbang utama yang disebut lawang kuto terletak di sisi sebelah selatan menghadap ke Sungai Musi. Pintu masuk lainnya yang disebut lawang borotan jumlahnya ada dua, tetapi yang masih tersisa tinggal satu buah ada di sisi barat.
Istana tempat tinggal Sultan yang disebut dalem atau rumah sirah terletak di bagian dalam benteng. Untuk mencapainya harus melalui beberapa pintu lagi. Selain bangunan dalem di dalam lingkungan benteng terdapat bangunan lain, yaitu pemarekan (pendopo), kaputren (tempat putri), segaran (kolam), taman, dan nudan (alun-alun). Di bagian luar dinding Benteng Kuto Besak terdapat bangunan-bangunan lain, misalnya pemarekan (gedung tempat menerima tamu asing), dan pendopo pemarekan. Kedua bangunan ini terletak di sebelah kanan (timur) lawang kuto. Di samping itu ada bangunan-bangunan lain yang belum diketahui namanya.
Kompleks Istana Kesultanan Palembang Darussalam diserang dan dibakar oleh Belanda pada bulan Romadhon 1236 H / 1821 M, menjelang masa akhir  pemerintahan Yang Mulia Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (Sultan Mahmud Badaruddin II) BKB diambil alih dan dikuasai oleh Belanda dengan terlebih dahulu menangkap dan membuang SMB II ke Ternate (Maluku) . Kemudian BKB / Kuto Anyar dipakai oleh Susuhunan Husin Diauddin (Sunan Mudo) bersama sama  dengan Pasukan Belanda diawali dengan acara pelantikan sultan yang baru oleh Jenderal de Kock yaitu Sultan Ahmad Najamuddin IV (Prabu Anom) danBelanda juga  mengangkat Sultan Ahmad Najamuddin II (Husin Dhiauddin) menjadi Susuhunan sebagai bentuk komitmen Belanda untuk merealisasi perjanjian Bogor tanggal 28 April 1821.
Benteng Kuto Besak terletak di belahan sisi utara sungai Musi, pada bidang tanah yang dulunya merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Palembang-Darussalam. Pada saat Kuto Besak dibangun, di sebelah timurnya terdapat bangunan Istana Kuto Kecik /Kuto Lamo/Kuto Batu/Kuto Tengkuruk. Kompleks keraton ini dikelilingi oleh sungai dan parit. Di sebelah selatan terdapat sungai Musi, di sebelah barat mengalir sungai Sekanak, di sebelah utara mengalir sungai Kapuran yang bersambung dengan sungai Sekanak di sisi barat dan sungai Tengkuruk di sisi timur, dan di sebelah timur mengalir sungai Tengkuruk.
Sungai Tengkuruk pada tahun 1928 ditimbun, dan pada saat ini telah menjadi Jl. Jendral Soedirman yang bersambung ke Jembatan Ampera. Pada lahan yang dikelilingi oleh sungai-sungai tersebut, Selain Bangunan Kuto Besak / Kuto Anyar terdapat juga bangunan Kuto Kecik / Kuto Lamo (Kuto Tengkuruk), dan Masjid Sulthon.  Sementara itu, di sisi utara dari Kuto Lamo dan Kuto Besak serta di sisi barat Mesjid Agung merupakan tanah kosong (lapangan). Peta situasi ini dapat dilihat pada peta yang dibuat tahun 1811 oleh Mayor William Thorn.

Denah situasi Istana Kuto Besak tahun 1811 yang dibuat oleh Mayor William Thorn (Sumber: Cultureel Indie 1939)


Jika dilihat dari gambar denah diatas maka penulis merasa perlu juga untuk sedikit mendeskripsikan bagunan lain yang berkaitan dengan benteng kuto besak anatara lain Istano Kuto Lamo/Kuto Batu/Kuto Tengkuruk dan Masjid Sulthon. Dalam catatan dan istilah orang-orang Belanda (Eropa) mereka menyebut benteng Kuto Besak/Kuto Anyar (Baru) dengan istilah “de nieuwe kraton”. Sedangkan Kuto Kecik/Kuto Lamo/Kuto Batu/Kuto tengkuruk dengan istilah “de oude kraton”. Berikut ini sedikit penjelasan tentang “de oude kraton” yag dibangun oleh Yang Mulia Sri Paduka Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo bersamaan dengan pembangunan Komplek Pemakaman “Kawah tekurep/Lemabang” tahun 1728, dan Istana Kuto Lamo/Kuto Kecik/Kuto Batu/Kuto Tengkuruk diresmikan pemakaiannya pada hari senin tanggal 29 September 1737 M (4 Jumadil Akhir 1150 H) serta Masjid Sulthon/Masjid Agung yang diresmikan pemakaiannya pada hari senin tanggal 26 Mei 1748 M (28 Jumadil Awal 1161 H).
Berdasarkan catatan diatas pada tahun 1737 telah dibangun sebuah Istana yang berada ditepi sungai Tengkuruk, dikenal sebagai istana Tengkuruk atau Kuto Batu. Kuto ini mempunyai 4 baluwarti (bastion), panjang dan lebarnya adalah 164 m . Istana ini  Kuto Lamo ini terletak diatas “pulau” yang dikelilingi oleh: depannya sungai Musi, dibelakangnya sungai Kapuran, disamping sebelah hulu adalah sungai Sekanak dan sebelah hilir sungai Tengkuruk. Kuto ini merupakan Istana ketiga dari Kesultanan Palembang. Sebelumnya pernah berdiri beberapa Istana, pertama Istana Kuto Gawang dan yang kedua Istana Beringin Janggut (Kuto Cerancangan), Ketiga Kuto Lamo, dan yang keempat Istana Kuto Besak.
Sebagaimana umumnya kerajaan atau kota-kota yang bernuansa Islam, di dekat istana biasanya terdapat bangunan masjid, sebut saja Masjid Raya Banda Aceh dan Masjid Raya Siti Maimun (Medan), Masjid Agung Demak, dan lain-lain. Konsep bangunan keraton di Jawa, di sebelah utara terdapat alun-alun, dan bangunan masjid biasanya terletak di sebelah barat alun-alun. Bangunan keraton menghadap ke arah utara. Di Palembang keadaannya berbeda dengan di Jawa. Bangunan Istana / Keraton dibuat di tepi utara sungai Musi (bangunannya menghadap ke selatan), sedangkan bangunan masjid terletak di sebelah timur laut istana / keraton.
---------------------> bersambung ke (bagian.2)
« Edit Terakhir: Pebruari 23, 2010, 09:11:15 oleh kemas-ari »
Tercatat