ShoutBox
|
|
|
Cari
|
|
|
Hot Topik
|
|
|
Top Board
|
|
|
Yg Online
|
-
Pengunjung Online: 4
-
Pengguna Online: 0
-
Pengguna tersembunyi: 0
-
Total Pengguna: 4
|
Informasi
|
|
|
Warta
|
Suka sejarah dimaksudkan sebagai media diskusi bagi para peminat sejarah, yang mau belajar sejarah, dan siapapun yang mau berbagi tentang kesejarahan baik yang bersifat keIndonesiaan maupun dunia.
"sejarawan yang baik melihat masa sekarang dalam perspektif masa lalu dan sebaliknya meneliti masa lampau untuk kepentingan masa kini dan masa depan. Ramalan seorang sejarawan lebih berkaitan dengan proses perjalanan sejarah yang sering kali berulang. L’histoire se repete, kata orang Perancis. Itulah sebabnya, di negeri yang dulu dikenal sebagai negara tirai besi, seorang negarawan Rusia, Krouchtjev, sempat berujar, “Sejarawan adalah profesi yang ditakuti penguasa karena mereka bisa membongkar masa lalu dengan penjelasan yang tak terbantah.”
|
 |
Adolf Hitler Meninggal di Indonesia? | 10 Mar 10 |
Adolf Hitler Meninggal di Indonesia? (1) Sosok dr. Poch yang Misterius
TEKA-TEKI kematian diktator Jerman Adolf Hitler, kembali jadi perbincangan hangat. Koran The Daily Telegraph pada 28 September 2009 menurunkan satu laporan, tengkorak yang selama ini diduga milik Hitler dan disimpan di Rusia ternyata, bukanlah tengkorak tokoh tersebut. Dalam Program History Channel Documentary, koran yang terbit di Inggris itu menjelaskan, tengkorak tersebut merupakan tengkorak perempuan yang meninggal di bawah usia 40 tahun.
Dengan informasi ini, semakin terbuka munculnya spekulasi seputar kematian tokoh Perang Dunia II tersebut. Selama ini, sebagian masyarakat dunia meyakini pemimpin Nazi (Nationalsozialismus) Jerman tersebut, tewas bunuh diri di salah satu bunker di Berlin pada 30 April 1945 bersama kekasihnya Eva Braun. Ketika itu usia Hitler 56 tahun.
Sebagian lagi beranggapan, Hitler berhasil melarikan diri bersama Eva Braun, kemudian menghabiskan masa tuanya di Brasil, Argentina, atau wilayah lainnya di Amerika Selatan. Masing-masing pihak mengemukakan berbagai argumen yang memperkuat dugaan mereka. Sejumlah dokumen diungkapkan dan para saksi pun berbicara.
Selain versi yang sudah lama dikenal dunia, terdapat versi Indonesia yang boleh jadi merupakan versi terbaru. Dalam versi itu dijelaskan tentang kemungkinan Hitler melarikan diri ke Indonesia dan meninggal di Surabaya. Dugaan ini didasarkan pada penuturan seorang dokter warga Bandung, Sosrohusodo.
Sosro adalah dokter lulusan Universitas Indonesia. Dia menuliskan pendapatnya pada satu artikel di Pikiran Rakyat pada 1983. Kemudian pada 1994 saya bertemu dengan Sosrohusodo. Hasil wawancara itu dimuat Pikiran Rakyat pada 24 Februari 1994 dalam bentuk artikel yang cukup panjang. Artikel itulah yang kemudian wara-wiri di dunia maya belakangan ini.
Pertemuan dengan Sosr...
|
|
|
 |
Ki Carpah Legenda yang Terasing | 10 Mar 10 |
Maestro Tari Topeng Ki Carpah Legenda yang Terasing
Hujan mengguyur deras ketika siang tengah hari itu, Carpan (70) asyik duduk di lantai depan rumahnya. Musik tarling dangdut mengalun keras-keras dari dalam rumah. Ki Carpan seolah-olah enggan siang itu telinganya dipenuhi bunyi air hujan, yang menerpa genting dan halaman.
Dari musik yang diperdengarkan, darah muda tampak masih mengalir deras di dalam tubuh lelaki kurus yang usianya telah senja itu. Bagi Carpan, bukan soal tarling dangdut. Dia hanya ingin mendidihkan darah supaya tubuh tuanya tidak kedinginan."Aku hanya tidak ingin darah yang mengalir di tubuhku membeku," ujarnya dalam bahasa Jawa Dermayu khas.
Carpan memang mutiara yang terpendam. Dia sebenarnya salah seorang penari topeng, yang juga berhak memegang gelar kehormatan sebagai maestro. Hanya saja, namanya jauh tenggelam oleh kepopuleran Mimi Rasinah dan Wangi Indria.
Pada 90-an, ketika maestro topeng Cirebon seperti Sawitri (Losari) dan Sujana Arja (Selangit), menikmati taburan panggung, Carpan seperti tak tersentuh. Begitu juga di masa-masa berikut ketika Rasinah dan Wangi Indria berpindah -pindah menari topeng, dari satu negara ke negara lain di Eropa, Carpan tak banyak dikenal orang. Dia pernah diajak pentas di Bali, Bandung dan Jakarta, tetapi tidak sebagai tokoh utama pementasan.
Padahal, sosok Carpan sangat dihormati oleh sesama penari topeng baik Indramayu maupun Cirebon. Di kalangan penari topeng, Carpan dianggap sebagai pemegang tongkat warisan topeng klasik pesisir pantai utara (Pantura) Jawa Barat.
Rasinah misalnya, bahkan meminta cucunya Aerly dan suaminya Ade, menimba ilmu ke Carpan. Begitu juga Wangi yang mengakui tari topeng Carpan sebagai yang orisinal dan murni, tanpa bercampur dengan khazanah tari lain seperti tayub yang memengaruhi gerakan tari topeng pesisir utara.
Nasib kurang berpihak kepa...
|
|
|
 |
”Panambah” Dalam Tembang Sunda Cianjuran | 01 Mar 10 |
MENURUT Apung S. Wiratmadja dalam buku Salawé Sesebitan Hariring (PT Kiblat Buku Utama, Oktober 2009), Nyi Mas Saodah selain dikenal sebagai penembang Sunda Cianjuran yang andal pada zamannya, juga dikenal sebagai pembuat rumpaka (lirik) panambah yang jempolan. Salah satu lirik panambah yang ditulis Nyi Mas Saodah yang hingga kini masih ditembangkan oleh para penembang Sunda Cianjuran adalah Pupundèn Ati. Lirik maupun pola lagu panambah dalam tembang Sunda Cianjuran posisinya di luar lirik maupun pola lagu yang ketat seperti yang terdapat dalam papantunan, jejemplangan, dedegungan, rancagan, kakawén, dan mangu-mangu. Masing-masing wanda tersebut mempunyai ciri yang mandiri. Ini menunjukkan bahwa nenek moyang Ki Sunda dalam berkarya seni cukup kreatif. R.A.A. Kusumaningrat merupakan salah seorang tokoh yang mengkreasi tembang Sunda Cianjuran pada zamannya. Kesenian ini pada awalnya tumbuh dan berkembang di Kabupaten Cianjur yang kemudian menyebar ke berbagai pelosok dunia.
Pada dasarnya, bila teks lirik panambah dibaca secara sungguh-sungguh, kita akan melihat teks tersebut tidak lebih dari puisi bebas yang kaya dengan makna. Lirik panambah yang ditulis oleh Nyi Mas Saodah, Pupundén Ati, memberikan gambaran kepada kita tentang kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya, sekalipun nakal adanya. Lirik tersebut berbunyi demikian:
Duh anak ibu nu geulis pupundén ati geus bila ulin geus capétang jeung ngopépan teu wéléh deudeuh najan bangor tolohéor tambah kanyaah saréngkak saparipolah
Dalam percakapannya dengan penulis beberapa waktu lalu, Apung yang juga dikenal sebagai tokoh tembang Sunda Cianjuran kenamaan dari Kota Bandung mengatakan bahwa lirik yang ditulis oleh Nyi Mas Saodah dalam bait pertama itu adalah lirik yang mampu menggambarkan sekaligus membangkitkan ingatan kita akan rasa kasih sayang yang mendalam dari seorang ibu terhadap anaknya. Lirik yang...
|
|
|
 |
Mencari Ahli Waris Pantun Bogor | 01 Mar 10 |
Dalam buku sejarah atau cerita rakyat tidak banyak yang mengisahkan secara detail tentang saat-saat terakhir kerajaan Pajajaran ketika digempur oleh pasukan gabungan dari Demak, Banten, dan Cirebon tahun 1526 M. Sebagian besar dongeng rakyat Pasundan tentang masa-masa itu selalu ditutup dengan kisah menghilangnya Prabu Siliwangi ke alam gaib dan mengubah pengikutnya menjadi manusia harimau. Sedangkan dalam Pantun Bogor terasa lebih masuk akal. Dikisahkan saat pasukan Pajajaran semakin terdesak mempertahankan keraton di Bogor, Raja Pajajaran Prabu Siliwangi membagi keluarganya menjadi tiga kelompok untuk menyelamatkan diri. Sang Prabu beserta rombongannya menuju pesisir Pantai Ujung Genteng, Sukabumi. Di tempat tersebut rombongan membuat perahu untuk menyeberang ke Pulau Nusalarang (sekarang Pulau Christmas). Namun, ketika perahu selesai dibuat dan digunakan menyeberang, badai ombak besar mirip tsunami menerjangnya hingga perahu pun hancur berantakan.
Sang Prabu akhirnya pasrah, kemudian ia membebaskan pengikutnya untuk pergi ke mana pun menyelamatkan diri, ia sendiri memilih moksa. Di tempat lain putri bungsu Prabu Siliwangi Dewi Purnamasari memilih menyelamatkan diri ke wilayah Palabuhanratu. Sang Putri bersama pengawalnya kemudian membentuk perkampungan yang lambat laun berkembang menjadi pemerintahan kecil bernama Pelabuhan Nyai Ratu.
Pemerintahan dilanjutkan oleh putri semata wayangnya Dewi Mayang Sagara yang pada tahun 1555 M mengganti nama kerajaan menjadi Kerajaan Pakuan Pajajaran Mandiri. ,Namun kerajaan ini kemudian digempur hingga tak bersisa oleh pasukan Kesultanan Mataram yang kala itu mulai berkuasa di tanah Sunda. Sedangkan Putra Mahkota Pajajaran, Prabu Anom Kean Santang menyelamatkan diri ke daerah sekitar Gunung Halimun Sukabumi, menyamarkan diri sebagai Batara Cikal dan kemudian menjadi nenek moyang masyarakat adat Banten Pancer Pangawinan.
Dalam Pantun Bogor juga terdapat Uga (ram...
|
|
|
 |
Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang | 23 Peb 10 |
09:01:40 oleh kemas-ari | Dilihat: 44 | Komentar: 0
BKB...., Riwayatmu Dulu..., Kini…, dan yang Akan Datang (Bagian 1). Oleh : Kemas Ari, S.Pd., M.Si. Dosen dan Guru Sejarah di Fakultas Adab IAIN Raden Fatah dan MAN 1 Palembang serta Sekretaris Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) cabang Provinsi Sumatera Selatan 1. Pendahuluan Menulusuri Sejarah Kota Palembang, adalah sebuah perjalanan panjang. Setidaknya kita akan terlibat dalam pembahasan dua kerajaan yang pernah ada di wilayah nusantara ini yaitu KERAJAAN SRIWIJAYA dan KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM. Akan tetapi panitia pelaksana Sarasehan Budaya telah menetukan tema “Membangun Indonesia dengan Pelestarian Aset Perjuangan Nasional” bertajuk Benteng Kuto Besak. Sehingga penulis akan dapat lebih memfokuskan tulisan tentang sejarah dan perkembangan Benteng Kuto Besak, sebagai batasan agar pembahasan tidak terlalu melebar. Saat ini mengingat kota Palembang, pasti yang terlebih dahulu terkenang adalah makanan khasnya dan Jembatan Ampera yang membentang gagah diatas sungai Musi serta Benteng Kuto Besak, atau nama besar kerajaan Sriwijaya yang pernah menguasai dan mempersatukan wilayah nusantara. Peninggalan-peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam secara fisik memang masih terlihat, diantaranya berupa sisi-sisa Istana yang dikenal dengan nama Benteng Kuto Besak (BKB) yang masih berdiri kokoh untuk dilihat, kendatipun nuansa Istana memang sama sekali sudah lenyap. Maklum, areal itu sudah lama berubah fungsi menjadi asrama dan rumah sakit tentara. Sebagai Kerajaan Maritim, Kesultanan Palembang Darussalam perlu memiliki sistem pertahanan yang khusus. Sistem pertahanan yang dibangun hendakknya dengan pertimbangan yang seksama. Untuk keperluan itu maka semua jalur lalu lintas sungai harus dikuasai, dan disepanjang sungai Musi harus dibuat benteng-benteng pertahanan (Panji,2006:153). Setelah terjadinya Perang Menteng pada tahun 1819 y...
|
|
|
|